Oleh: Opini
Kita sedang hidup di zaman yang barangkali tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya.
Hari ini, hampir semua pengetahuan dapat disajikan dalam bentuk video. Orang tidak perlu lagi membaca buku puluhan halaman untuk mengetahui cara memperbaiki sesuatu. Cukup membuka ponsel, mengetik kata kunci, lalu muncul video yang menjelaskan dari awal sampai akhir.
Berita tersedia dalam bentuk video.
Pengetahuan tersedia dalam bentuk video.
Tutorial tersedia dalam bentuk video.
Ceramah tersedia dalam bentuk video.
Podcast tersedia dalam bentuk audio dan video.
Bahkan pelajaran sekolah pun sekarang dapat ditemukan di berbagai platform digital.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat penting:
Di tengah dunia yang semakin visual dan serba cepat ini, apakah membaca dan menulis masih penting?
Jawabannya: sangat penting. Bahkan mungkin justru semakin penting.
Sebab persoalan generasi hari ini bukan kekurangan informasi.
Persoalannya adalah kelebihan informasi, tetapi kekurangan kemampuan mengolah informasi.
Anak-Anak Tidak Kekurangan Informasi, Tetapi Kekurangan Kedalaman
Coba perhatikan kebiasaan anak-anak dan remaja hari ini.
Bangun tidur mencari telepon genggam.
Waktu senggang membuka media sosial.
Satu video selesai, geser.
Video berikutnya muncul, geser lagi.
Kemudian video berikutnya.
Scroll.
Scroll.
Scroll.
Kadang seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam melihat berbagai konten, tetapi ketika ditanya:
"Tadi kamu belajar apa?"
Belum tentu ada yang benar-benar melekat.
Inilah persoalan yang harus kita pikirkan bersama.
Bukan berarti menonton video itu buruk.
Bukan pula berarti media sosial harus dijauhi.
Masalahnya adalah ketika scrolling menjadi kebiasaan utama untuk mengisi pikiran, sementara membaca, menulis, berdiskusi, bertanya, dan berpikir mendalam semakin ditinggalkan.
Otak Tidak Hanya Membutuhkan Hiburan
Anak-anak membutuhkan hiburan.
Itu normal.
Mereka juga membutuhkan permainan, interaksi sosial, kreativitas, dan teknologi.
Namun otak manusia tidak hanya membutuhkan rangsangan yang cepat.
Otak juga membutuhkan waktu untuk berpikir.
Membaca memaksa seseorang mengikuti gagasan secara bertahap.
Menulis memaksa seseorang menyusun pikiran.
Berdiskusi memaksa seseorang mendengarkan orang lain.
Menganalisis berita memaksa seseorang membedakan fakta dan opini.
Mengerjakan soal memaksa seseorang mencari jalan keluar.
Semua proses tersebut membutuhkan keterlibatan mental yang lebih aktif dibandingkan sekadar menerima konten yang terus berganti.
Video Tidak Salah, Tetapi Jangan Sampai Anak Hanya Menjadi Penonton
Kita tidak perlu memusuhi video.
Justru video dapat menjadi media pendidikan yang luar biasa.
Anak dapat belajar sejarah melalui dokumenter.
Belajar sains melalui eksperimen.
Belajar bahasa melalui podcast.
Belajar teknologi melalui tutorial.
Belajar ekonomi melalui diskusi.
Belajar pertanian melalui video praktik.
Belajar agama melalui kajian.
Belajar berbagai keterampilan melalui demonstrasi langsung.
Masalahnya bukan pada video.
Masalahnya adalah ketika anak hanya mengonsumsi video tanpa pernah mengolahnya.
Menonton.
Scroll.
Tertawa.
Lewat.
Kemudian lupa.
Itu berbeda dengan menonton sesuatu untuk belajar.
Anak yang selesai menonton video edukasi kemudian membaca sumber lain, mencatat poin penting, berdiskusi, dan mencoba mempraktikkan apa yang dipelajari sedang melakukan proses belajar.
Sedangkan anak yang hanya berpindah dari satu video ke video lain tanpa tujuan sedang melakukan konsumsi konten.
Keduanya sama-sama menggunakan ponsel.
Tetapi hasilnya bisa sangat berbeda.
Membaca Mengajarkan Anak untuk Bertahan pada Satu Gagasan
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah kemampuan berkonsentrasi.
Media sosial dirancang untuk memberikan aliran konten yang cepat.
Satu konten belum selesai dipikirkan, konten lain sudah muncul.
Akibatnya, anak bisa terbiasa dengan pergantian rangsangan yang sangat cepat.
Sementara membaca membutuhkan kesabaran.
Ketika membaca sebuah artikel panjang atau buku, seseorang harus mengikuti satu gagasan dari awal hingga akhir.
Ada bagian yang mungkin membosankan.
Ada bagian yang sulit dipahami.
Ada istilah yang harus dicari.
Ada argumentasi yang perlu dipikirkan.
Namun justru proses seperti itulah yang melatih kedalaman berpikir.
Karena itu, membaca tidak boleh dianggap sebagai kegiatan kuno.
Membaca adalah latihan untuk berpikir secara mendalam.
Menulis Juga Bukan Kegiatan Kuno
Hal yang sama berlaku untuk menulis.
Banyak anak sekarang dapat berbicara dengan cepat, tetapi belum tentu dapat menuangkan pikirannya dengan baik dalam bentuk tulisan.
Padahal menulis merupakan salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar memahami sesuatu.
Coba minta seorang anak menjelaskan apa yang baru saja ditontonnya.
Jika ia benar-benar memahami, ia seharusnya mampu menuliskan kembali dengan bahasanya sendiri.
Tidak harus panjang.
Satu paragraf pun cukup.
Kemudian berkembang menjadi tiga paragraf.
Lalu satu halaman.
Dari sana kemampuan berpikir dan menyusun gagasan dapat berkembang.
Karena ketika menulis, seseorang tidak bisa hanya berkata:
"Pokoknya begitu."
Ia harus menjelaskan:
Apa yang terjadi?
Mengapa terjadi?
Apa penyebabnya?
Apa akibatnya?
Apa pendapat saya?
Apa buktinya?
Inilah latihan berpikir.
Jangan Hanya Ajarkan Anak untuk Mencari Jawaban, Ajarkan Mereka Mengajukan Pertanyaan
Pendidikan di era digital seharusnya tidak hanya membuat anak pandai mencari informasi.
Anak juga harus belajar mempertanyakan informasi.
Ketika melihat sebuah video, jangan hanya bertanya:
"Bagus atau tidak?"
Tetapi tanyakan:
"Siapa yang membuatnya?"
"Apa sumber informasinya?"
"Apa buktinya?"
"Apakah ada sudut pandang lain?"
"Apakah informasi ini masih berlaku?"
"Apa yang sebenarnya ingin disampaikan?"
Kemampuan seperti ini sangat penting karena internet bukan hanya berisi ilmu.
Internet juga berisi opini, iklan, propaganda, hiburan, informasi yang belum terverifikasi, dan bahkan informasi yang keliru.
Anak yang memiliki literasi digital tidak mudah menerima semua yang dilihatnya sebagai kebenaran.
Solusinya Bukan Melarang Ponsel
Ini bagian yang sangat penting.
Kita tidak mungkin mengembalikan anak-anak ke zaman sebelum internet.
Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Maka solusi yang lebih masuk akal bukan:
"Buang HP!"
atau
"Jangan boleh menggunakan internet!"
Melainkan:
"Ajarkan cara menggunakan teknologi dengan benar."
Ponsel jangan hanya menjadi alat hiburan.
Jadikan ponsel sebagai alat belajar.
Jadikan internet sebagai perpustakaan.
Jadikan YouTube sebagai ruang belajar.
Jadikan podcast sebagai bahan diskusi.
Jadikan berita sebagai bahan analisis.
Jadikan media sosial sebagai tempat menemukan informasi, bukan sekadar tempat menghabiskan waktu.
Buat Anak Mengubah Pola: Tonton → Baca → Tulis → Diskusi → Praktik
Salah satu pola yang dapat diterapkan adalah:
Tonton → Baca → Tulis → Diskusi → Praktik.
Misalnya anak menonton video tentang perubahan iklim.
Jangan berhenti di video.
Setelah menonton, minta anak membaca satu artikel atau bahan bacaan mengenai topik tersebut.
Kemudian tuliskan tiga hal yang baru dipelajari.
Setelah itu diskusikan.
Terakhir, cari contoh nyata di lingkungan sekitar.
Dengan pola tersebut, video menjadi pintu masuk pengetahuan, bukan tujuan akhir.
Terapkan "15 Menit Membaca" Setiap Hari
Tidak semua anak langsung mampu membaca buku selama satu jam.
Jangan memaksanya.
Mulailah dari sesuatu yang sederhana.
15 menit membaca setiap hari.
Bisa buku.
Bisa artikel.
Bisa berita yang kredibel.
Bisa ensiklopedia.
Bisa biografi.
Bisa bahan pelajaran.
Yang penting dilakukan secara konsisten.
Setelah terbiasa, waktunya bisa ditingkatkan.
Tujuannya bukan mengejar berapa banyak halaman yang dibaca.
Tujuannya adalah membangun kebiasaan membaca.
Setelah Membaca, Minta Mereka Menulis
Membaca sebaiknya diikuti dengan menulis.
Tidak perlu langsung membuat karangan panjang.
Cukup:
"Apa yang kamu baca hari ini?"
"Apa yang paling menarik?"
"Apa yang kamu tidak setujui?"
"Apa yang baru kamu ketahui?"
"Apa yang ingin kamu cari tahu lebih lanjut?"
Lima pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi latihan literasi yang sangat baik.
Orang Tua Harus Menjadi Contoh
Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat.
Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika orang tua mengatakan:
"Jangan main HP terus!"
tetapi orang tua sendiri sepanjang waktu memegang ponsel untuk media sosial, anak akan melihat kontradiksi.
Karena itu, budaya literasi harus dimulai dari rumah.
Orang tua membaca.
Anak melihat.
Orang tua berdiskusi.
Anak mendengar.
Orang tua menulis.
Anak belajar.
Tidak harus selalu buku berat.
Membaca koran, artikel, majalah, buku pengetahuan, atau bahan bacaan lain pun dapat menjadi contoh.
Sekolah Juga Harus Mengubah Cara Membangun Budaya Literasi
Sekolah tidak cukup hanya membuat program "wajib membaca" kemudian meminta siswa membaca selama beberapa menit.
Yang lebih penting adalah membangun budaya berpikir.
Misalnya setiap minggu siswa diminta memilih satu berita.
Kemudian mereka harus menjawab:
Apa peristiwa yang diberitakan?
Siapa yang terlibat?
Apa sumbernya?
Apa fakta yang tersedia?
Apa pendapat saya?
Apa informasi yang masih belum saya ketahui?
Ini jauh lebih bermakna daripada sekadar meminta siswa membaca tanpa mengetahui apa yang mereka dapatkan dari bacaan tersebut.
Anak Harus Dikenalkan pada Konten Berkualitas
Tidak semua waktu di internet harus diisi dengan pelajaran formal.
Anak juga perlu hiburan.
Namun orang tua dan guru dapat membantu memperkenalkan konten yang berkualitas.
Podcast pendidikan.
Dokumenter.
Berita.
Wawancara tokoh.
Video eksperimen.
Konten sejarah.
Konten teknologi.
Konten keterampilan.
Konten kewirausahaan.
Konten pertanian.
Konten budaya.
Dengan demikian, anak tetap menggunakan teknologi tetapi mendapatkan asupan informasi yang lebih beragam.
Jangan Sampai Algoritma yang Menentukan Isi Kepala Anak
Ini mungkin menjadi salah satu pertanyaan paling penting untuk generasi sekarang.
Siapa yang sebenarnya menentukan apa yang kita lihat setiap hari?
Kita atau algoritma?
Ketika seseorang terus menonton satu jenis konten, platform akan terus menawarkan konten yang serupa.
Akhirnya seseorang dapat hidup dalam ruang informasi yang sangat sempit tanpa menyadarinya.
Karena itu, anak harus diajarkan untuk keluar dari kebiasaan tersebut.
Jangan hanya mengikuti apa yang muncul di layar.
Cari sendiri.
Cari buku.
Cari berita.
Cari sumber lain.
Cari pendapat berbeda.
Cari data.
Cari penjelasan yang lebih panjang.
Dengan demikian, anak tidak hanya menjadi konsumen informasi yang diberikan algoritma.
Ia menjadi manusia yang aktif mencari pengetahuan.
Generasi Digital Harus Menjadi Generasi Pembelajar
Kita tidak perlu mempertentangkan buku dengan video.
Buku punya kelebihan.
Video punya kelebihan.
Podcast punya kelebihan.
Diskusi punya kelebihan.
Praktik langsung juga punya kelebihan.
Yang harus kita bangun adalah kemampuan menggunakan semuanya secara seimbang.
Anak boleh menonton.
Tetapi juga harus membaca.
Anak boleh bermain media sosial.
Tetapi juga harus berdiskusi.
Anak boleh menikmati hiburan.
Tetapi juga harus belajar.
Anak boleh menggunakan teknologi.
Tetapi juga harus mampu berpikir tanpa bergantung sepenuhnya kepada teknologi.
Teknologi Seharusnya Membuat Anak Lebih Pintar, Bukan Sekadar Lebih Lama Menatap Layar
Inilah tantangan terbesar kita.
Jangan sampai kemajuan teknologi hanya menghasilkan generasi yang semakin lama menatap layar, tetapi semakin sedikit membaca.
Jangan sampai informasi semakin banyak, tetapi pemahaman semakin dangkal.
Jangan sampai anak mengetahui ribuan video, tetapi tidak mampu menjelaskan satu persoalan secara mendalam.
Jangan sampai mereka cepat mengetahui sesuatu yang sedang viral, tetapi kesulitan memahami sesuatu yang membutuhkan proses berpikir.
Teknologi seharusnya memperluas kemampuan manusia.
Bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir.
Penutup: Jangan Matikan Teknologi, Tetapi Hidupkan Budaya Berpikir
Kita tidak sedang menghadapi perang antara buku dan internet.
Kita juga tidak sedang memilih antara membaca atau menonton.
Yang kita hadapi adalah tantangan untuk membangun pola belajar baru di era digital.
Anak-anak harus tetap membaca.
Harus tetap menulis.
Harus tetap berdiskusi.
Harus tetap bertanya.
Harus tetap mencoba.
Harus tetap berpikir.
Tetapi semua itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi.
Video boleh menjadi pintu masuk.
Podcast boleh menjadi sumber inspirasi.
Internet boleh menjadi perpustakaan.
Media sosial boleh menjadi tempat menemukan gagasan.
Namun setelah itu, anak harus diajak membaca lebih dalam, menulis kembali, berdiskusi, memeriksa informasi, dan mempraktikkannya.
Sebab pendidikan bukan tentang seberapa banyak video yang sudah ditonton.
Bukan pula tentang seberapa cepat seseorang melakukan scroll.
Pendidikan adalah tentang seberapa jauh informasi mampu mengubah cara seseorang memahami dunia dan mengambil keputusan.
Maka pertanyaan untuk orang tua, guru, dan kita semua bukan lagi:
"Bagaimana menghentikan anak menggunakan HP?"
Tetapi:
"Bagaimana membuat anak menggunakan HP untuk menjadi pembelajar?"
Karena di tengah banjir informasi, kemampuan paling berharga bukan sekadar kemampuan menerima informasi.
Melainkan kemampuan untuk memilih, memahami, menguji, mengolah, dan menghasilkan pengetahuan.
Dan untuk itu, membaca dan menulis masih sangat penting.
Bahkan di era video sekalipun.