Oleh: Opini
Banyak orang ingin membuka usaha.
Ada yang ingin membuka warung makan. Ada yang ingin membuka bengkel. Ada yang ingin membuka toko. Ada yang ingin menjalankan usaha rental mobil. Ada yang ingin membuka usaha jasa, perdagangan, pertanian, peternakan, kursus, percetakan, hingga usaha berbasis internet.
Keinginan untuk memiliki usaha sendiri memang menarik.
Tidak lagi hanya mengandalkan gaji. Bisa membuka lapangan pekerjaan. Bisa mengembangkan aset. Bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.
Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan ketika seseorang membicarakan usaha:
Setiap usaha mempunyai risiko.
Tidak ada usaha yang memberikan jaminan pasti untung.
Bahkan usaha yang terlihat sangat menjanjikan pun dapat mengalami kerugian.
Usaha rental mobil bisa mengalami kecelakaan, kendaraan rusak, biaya perawatan meningkat, mobil menganggur, atau pelanggan bermasalah.
Warung makan bisa kehilangan pelanggan, bahan makanan naik, makanan tidak habis, atau lokasi tidak lagi seramai sebelumnya.
Bengkel bisa mengalami penurunan pelanggan.
Toko bisa mengalami penurunan penjualan.
Peternakan bisa menghadapi penyakit.
Pertanian bisa menghadapi cuaca, hama, harga komoditas, dan hasil panen yang tidak sesuai harapan.
Usaha digital pun bukan tanpa risiko.
Platform bisa berubah aturan. Persaingan bisa meningkat. Produk tidak laku. Biaya iklan naik. Bahkan usaha yang sudah berjalan bertahun-tahun tetap dapat mengalami masa sulit.
Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:
"Bagaimana supaya usaha saya tidak memiliki risiko?"
Karena hampir mustahil.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
"Bagaimana supaya saya mampu mengelola risiko tersebut?"
Jangan Takut pada Risiko, Takutlah pada Risiko yang Tidak Dihitung
Ketakutan dalam memulai usaha sebenarnya sesuatu yang wajar.
Orang takut modal habis.
Takut usaha tidak laku.
Takut utang.
Takut kehilangan aset.
Takut mengecewakan keluarga.
Takut gagal.
Semua itu manusiawi.
Namun ada perbedaan antara takut yang membuat seseorang berhati-hati dengan takut yang membuat seseorang tidak pernah bergerak.
Ketakutan pertama bisa menjadi pelindung.
Ketakutan kedua bisa menjadi penghambat.
Karena itu, jangan berusaha menghilangkan rasa takut sepenuhnya.
Ubahlah rasa takut menjadi perhitungan.
Jika takut rugi Rp100 juta, jangan hanya memikirkan ketakutannya.
Hitung:
Berapa modal yang benar-benar dibutuhkan?
Berapa biaya tetap setiap bulan?
Berapa perkiraan pendapatan?
Berapa titik impas?
Berapa kerugian maksimal yang sanggup ditanggung?
Kalau usaha tidak berjalan selama enam bulan, apakah kehidupan keluarga masih aman?
Dengan pertanyaan tersebut, rasa takut berubah menjadi data.
Jangan Menggunakan Seluruh Uang untuk Membuktikan Keberanian
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan calon pengusaha adalah menganggap semakin besar modal yang dikeluarkan berarti semakin serius menjalankan usaha.
Tidak selalu demikian.
Keberanian dalam bisnis bukan berarti mempertaruhkan seluruh harta.
Justru pengusaha yang berhati-hati akan menentukan batas risiko.
Misalnya seseorang memiliki modal Rp200 juta.
Tidak berarti seluruh Rp200 juta harus langsung dimasukkan ke usaha.
Bisa saja sebagian digunakan untuk memulai usaha, sementara sebagian lainnya menjadi cadangan operasional dan dana darurat.
Prinsipnya sederhana:
Jangan membuat satu keputusan bisnis yang apabila gagal langsung menghancurkan kehidupan pribadi.
Mulailah dari Skala yang Bisa Dikendalikan
Jika masih takut membuka usaha besar, jangan langsung membuka usaha besar.
Mulailah dari skala kecil.
Ingin membuka usaha makanan?
Uji produk terlebih dahulu.
Ingin membuka rental mobil?
Tidak harus langsung membeli banyak kendaraan. Pelajari pasar dan hitung model bisnisnya terlebih dahulu.
Ingin membuka toko?
Bisa dimulai dengan stok yang terukur.
Ingin membuka usaha percetakan?
Mulai dari layanan yang paling banyak dibutuhkan, kemudian berkembang berdasarkan permintaan.
Ingin membuka usaha pertanian?
Uji satu lahan atau satu komoditas terlebih dahulu.
Tujuannya bukan menjadi kecil selamanya.
Tujuannya adalah belajar dengan biaya kesalahan yang lebih murah.
Uji Pasar Sebelum Mengeluarkan Modal Besar
Kadang seseorang membuat produk karena merasa produknya bagus.
Tetapi bisnis bukan hanya soal produk bagus.
Pertanyaannya:
Apakah ada yang mau membeli?
Inilah yang harus diuji.
Sebelum membangun usaha besar, cari calon pelanggan.
Tanyakan kebutuhan mereka.
Lihat kompetitor.
Bandingkan harga.
Coba menjual dalam skala kecil.
Perhatikan apakah orang kembali membeli.
Jika ternyata pasar tidak merespons, kita masih bisa mengubah strategi sebelum kerugiannya semakin besar.
Risiko Rental Mobil: Contoh Nyata
Misalnya seseorang ingin membuka usaha rental mobil.
Ia melihat banyak orang membutuhkan kendaraan.
Kemudian muncul pikiran:
"Kalau punya lima mobil, pasti penghasilannya besar."
Tetapi perhitungan tidak boleh berhenti pada pendapatan sewa.
Ada cicilan jika kendaraan dibiayai.
Ada pajak.
Ada servis.
Ada ban.
Ada oli.
Ada penyusutan kendaraan.
Ada kendaraan yang menganggur.
Ada risiko kecelakaan.
Ada risiko keterlambatan pembayaran.
Ada risiko kendaraan digunakan secara tidak sesuai kesepakatan.
Artinya, omzet bukan keuntungan.
Seorang calon pengusaha harus menghitung seluruh biaya dan skenario buruk sebelum membeli kendaraan.
Bahkan harus memikirkan pertanyaan:
"Kalau kendaraan tidak menghasilkan selama beberapa bulan, apakah saya masih mampu membayar kewajibannya?"
Jika jawabannya tidak, berarti struktur risikonya perlu diperbaiki.
Setiap Usaha Harus Memiliki Skenario Buruk
Kebanyakan orang ketika memulai usaha hanya membuat perhitungan:
Kalau laku, saya untung berapa?
Pengusaha juga harus membuat skenario:
Kalau penjualan turun 30 persen, bagaimana?
Kalau pelanggan berkurang setengah, bagaimana?
Kalau harga bahan baku naik, bagaimana?
Kalau kendaraan rusak, bagaimana?
Kalau usaha tidak menghasilkan selama tiga bulan, bagaimana?
Kalau ternyata lokasi tidak cocok, bagaimana?
Skenario buruk bukan berarti pesimis.
Justru itu bentuk persiapan.
Orang yang sudah memikirkan kemungkinan buruk biasanya lebih siap ketika masalah benar-benar datang.
Pisahkan Uang Usaha dan Uang Keluarga
Ini sangat penting.
Banyak usaha terlihat menghasilkan keuntungan karena seluruh uang masuk dianggap sebagai uang yang boleh digunakan.
Padahal uang usaha bukan otomatis keuntungan pribadi.
Pisahkan:
modal usaha,
uang operasional,
keuntungan,
dan uang pribadi.
Jika semua bercampur, pemilik usaha akan sulit mengetahui apakah bisnis sebenarnya sehat atau hanya terlihat berputar.
Jangan Takut Gagal, Tetapi Belajarlah dari Kegagalan
Tidak semua usaha berhasil.
Ada orang yang sudah mencoba dan gagal.
Ada yang rugi.
Ada yang akhirnya menutup usahanya.
Kegagalan tentu tidak menyenangkan.
Namun kegagalan bisnis tidak harus menjadi akhir dari kehidupan seseorang.
Yang harus ditanyakan adalah:
Mengapa gagal?
Apakah produknya tidak dibutuhkan?
Apakah salah menentukan harga?
Apakah biaya terlalu besar?
Apakah lokasi tidak tepat?
Apakah manajemen buruk?
Apakah utang terlalu besar?
Apakah tidak memiliki pelanggan tetap?
Apakah pemilik tidak menguasai bidang usahanya?
Jika penyebabnya diketahui, kegagalan dapat menjadi bahan belajar.
Yang berbahaya bukan hanya gagal.
Yang berbahaya adalah gagal tanpa mengetahui mengapa gagal, kemudian mengulangi kesalahan yang sama.
Jangan Berutang Hanya Karena Ingin Terlihat Besar
Utang dalam bisnis bukan otomatis buruk.
Pembiayaan dapat digunakan untuk mengembangkan usaha apabila arus kas dan kemampuan membayarnya benar-benar diperhitungkan.
Tetapi utang menjadi berbahaya ketika digunakan untuk mengejar gaya.
Toko harus besar.
Mobil harus banyak.
Kantor harus mewah.
Peralatan harus mahal.
Padahal pasar belum terbukti.
Usaha akhirnya bukan mengejar pelanggan, tetapi mengejar pembayaran cicilan.
Karena itu, sebelum mengambil utang, hitung kemampuan membayar bahkan dalam kondisi pendapatan turun.
Belajar Sebelum Membuka Usaha
Jangan malu belajar dari orang lain.
Jika ingin membuka bengkel, belajar tentang bengkel.
Jika ingin membuka restoran, pelajari pengelolaan restoran.
Jika ingin menjalankan rental kendaraan, pelajari operasional dan risiko bisnis rental.
Jika ingin bertani, pelajari komoditas yang akan ditanam.
Jika ingin membuka toko online, pelajari pemasaran digital dan perilaku konsumen.
Banyak kesalahan mahal sebenarnya dapat dikurangi hanya dengan belajar terlebih dahulu.
Biaya belajar sering kali jauh lebih murah daripada biaya memperbaiki kesalahan.
Cari Mentor, Bukan Sekadar Motivator
Motivasi memang penting.
Tetapi pengusaha juga membutuhkan orang yang berani mengatakan:
"Jangan lakukan itu."
Carilah orang yang sudah mengalami dunia usaha.
Tanyakan:
Apa kesalahan terbesar Anda?
Apa biaya yang paling sering tidak diperhitungkan?
Apa yang sebaiknya saya siapkan sebelum mulai?
Dalam kondisi apa saya harus berhenti atau mengubah strategi?
Jawaban dari pengalaman orang lain dapat membantu kita melihat risiko yang mungkin belum terpikirkan.
Buat Batas Kerugian
Salah satu cara mengatasi ketakutan adalah menentukan batas.
Misalnya:
"Saya siap kehilangan maksimal sekian untuk tahap uji coba."
Jika ternyata model bisnis tidak berjalan dan kerugian sudah mendekati batas tersebut, jangan terus memasukkan uang hanya karena merasa sudah terlanjur.
Ini disebut jebakan "sudah terlanjur".
Modal yang sudah hilang tidak otomatis menjadi alasan untuk menambah modal lagi.
Yang penting adalah keputusan berikutnya.
Apakah bisnis ini masih memiliki alasan kuat untuk dilanjutkan?
Berani Berhenti Bukan Berarti Pengecut
Ada anggapan bahwa pengusaha hebat adalah orang yang tidak pernah menyerah.
Tetapi dalam bisnis, bertahan tanpa perhitungan juga dapat berbahaya.
Ada saatnya memperbaiki.
Ada saatnya mengubah strategi.
Ada saatnya mengecilkan usaha.
Ada saatnya mengganti produk.
Dan dalam kondisi tertentu, ada saatnya menghentikan usaha yang tidak lagi layak.
Menghentikan satu usaha bukan berarti berhenti menjadi pengusaha.
Bisa jadi seseorang sedang menyelamatkan modal, pengalaman, dan kesempatan untuk memulai sesuatu yang lebih tepat.
Bangun Usaha dengan Prinsip "Naik Bertahap"
Usaha yang sehat tidak harus langsung besar.
Bisa dimulai dari:
1 pelanggan → 5 pelanggan → 10 pelanggan → 50 pelanggan.
Dari satu produk menjadi beberapa produk.
Dari satu kendaraan menjadi beberapa kendaraan.
Dari satu cabang menjadi beberapa cabang.
Dari satu karyawan menjadi sebuah tim.
Pertumbuhan bertahap memberi kesempatan kepada pemilik usaha untuk belajar sambil berkembang.
Jangan Membandingkan Bab Pertama Kita dengan Bab Kesepuluh Orang Lain
Media sosial sering membuat orang melihat kesuksesan orang lain.
Mobilnya.
Tokonya.
Rumahnya.
Usahanya.
Omzetnya.
Kemudian muncul pikiran:
"Kapan saya bisa seperti itu?"
Yang tidak terlihat adalah berapa tahun mereka membangun usaha tersebut, berapa kali mereka gagal, berapa besar biaya yang dikeluarkan, dan masalah apa yang mereka hadapi.
Karena itu, jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai tekanan.
Jadikan sebagai bahan belajar.
Pelajari prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.
Keberanian yang Sesungguhnya Adalah Berani Menghitung
Membuka usaha bukan sekadar keberanian.
Bukan sekadar nekat.
Bukan sekadar modal.
Dan bukan sekadar optimisme.
Pengusaha membutuhkan keberanian sekaligus perhitungan.
Berani mencoba.
Berani belajar.
Berani bertanya.
Berani menguji pasar.
Berani menerima kritik.
Berani mengakui kesalahan.
Berani mengubah strategi.
Dan bila diperlukan, berani menghentikan kerugian sebelum menjadi lebih besar.
Itulah keberanian yang lebih sehat dalam berbisnis.
Penutup: Jangan Menunggu Tidak Takut untuk Memulai
Kalau menunggu sampai benar-benar tidak takut, mungkin seseorang tidak akan pernah memulai usaha.
Karena rasa takut adalah bagian dari proses.
Yang penting bukan menghilangkan rasa takut.
Yang penting adalah jangan membiarkan rasa takut mengambil seluruh keputusan kita.
Ketika takut rugi, hitung risikonya.
Ketika takut gagal, buat skenario kegagalannya.
Ketika takut kehilangan modal, mulai dengan modal yang mampu ditanggung.
Ketika takut tidak punya pelanggan, uji pasar terlebih dahulu.
Ketika takut tidak menguasai usaha, belajar.
Ketika takut menghadapi masalah, cari mentor dan siapkan prosedur.
Ketika takut usaha terlalu besar, mulai dari kecil.
Dengan begitu, kita tidak sedang berjudi dengan masa depan.
Kita sedang mengambil risiko yang telah dipelajari dan berusaha mengendalikannya.
Sebab dalam dunia usaha, tidak ada jaminan bahwa kita pasti untung.
Tetapi kita dapat berusaha agar jika terjadi kerugian, kerugiannya masih dapat ditanggung.
Dan jika peluang datang, kita sudah siap memanfaatkannya.
Membuka usaha bukan berarti tidak takut rugi.
Membuka usaha berarti belajar bagaimana menghadapi kemungkinan rugi tanpa kehilangan kendali atas kehidupan kita.
Karena pengusaha yang baik bukan orang yang tidak pernah menghadapi risiko.
Ia adalah orang yang tahu risiko apa yang sedang dihadapinya, berapa besar risikonya, bagaimana menguranginya, dan kapan harus mengambil keputusan.