Mungkin kita pernah berfikir “Mengapa
dilahirkan seperti ini?”. Musibah datang silih berganti, belum selesai
masalah yang satu datang masalah yang lain. Hidup serba kekurangan (materi),
susah mencari kerja, penyakitan, dan lain lain. Bahkan yang lebih parahnya,
terbesit di hati dan pikiran menyalahkan sang pencipta, Allah SWT.
Sebagian kita juga mungkin pernah melupakan Allah
SWT atas segala nikmat yang diberikanNya. Diberikan harta yang melimpah,
jabatan tinggi dalam pekerjaan, diberikan kesehatan dan berbagai nikmatNya yang
lain tanpa mengucapkan syukur atas semua pemberianNya.
Semua kejadian itu nyata adanya dalam kehidupan
kita, ada disekitar kita, bahkan mungkin kita yang mengalaminya. Tentu kita
semua juga tahu, menyalahkan dan melupakan Allah atas segala ujian dan nikmat
yang diberikanNya adalah hal yang salah. Tapi kita tidak perlu menyalahkan diri
sendiri ataupun menyalahkan orang lain yang berpikiran seperti. Itu adalah fase
hidup yang harus dijalani sampai akhirnya kita sadar dan berpikiran arif dan
bijaksana atas semua pemberian Allah SWT.
Bukankah “pengalaman adalah guru yang
terbaik”, baik itu dari pengalaman pribadi ataupun dari pengalaman
orang lain.
“Bagaimana dengan orang orang yang tidak
mau belajar dari pengalamannya ataupun orang lain dan sering kali jatuh ke
lobang yang sama?”. Tugas orang yang tahu untuk mengingatkan dan
memberitahu.
“Bagaimana jika orang yang kita ingatkan
tersebut tidak mau mendengarkan?”. Biarkan dia menjalani hidupnya,
setidaknya kita sebagai saudara se agama telah mengingatkan.
Ada tipe orang yang memang susah menerima saran,
pendapat dan kritik dari orang lain. Meskipun berkali kali jatuh di lobang yang
sama, disekitarnya banyak orang yang mengalami musibah dan ujian yang serupa,
tetapi tetap tidak peka. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan orang orang
yang seperti itu. Hal itu adalah pengalaman hidup dan pelajaran yang berharga
untuknya hingga dia sadar suatu saat nanti yang kita juga tidak tahu kapan.
Menurut saya, terlepas dari firman Allah ataupun
hadits nabi dalam agama islam, ujian (musibah) dan nikmat dari Allah SWT adalah
dua hal yang tidak jauh berbeda, dan mungkin sama. Ujian dan nikmat adalah satu
paket hadiah yang diberikan Allah SWT untuk hambaNya.
Ujian dalam hidup akan menjadi nikmat yang tidak
terkira jika kita arif dan bijaksana dalam menyikapinya. Peka melihat dan
mendengar mendengar, berusaha selalu berpikiran positif dan teguhkan hati
bahwasanya “dibalik musibah tersimpan banyak nikmat Allah SWT”.
Teguhkan hati bahwa “Allah tidak akan memberikan ujian yang melampaui
kesanggupan hambaNya”. Nikmat Allah juga merupakan ujian. Jika kita
lalai, terlena dan lupa kepadaNya maka nikmat itu akan menjadi musibah bagi
kita.
“Nikmat apa yang tersimpan dibalik
musibah?” Sangat banyak!!! Kita diberi peringatan untuk kembali
mengingat Allah SWT yang mungkin selama ini kita lupa dengan adanya musibah,
menjadikan kita orang yang lebih tabah dan sabar dalam menghadapi sesuatu,
pengembangan diri dalam berpikir dan bertindak, dan lain lain.
“Benarkah Allah SWT tidak akan memberikan
ujian melampaui kesanggupan kita?” Saya pribadi sulit untuk
membuktikannya dan belum punya alat pengukur sampai dimana batas kesanggupan
saya dalam menghadapi suatu musibah. Tapi, ujian itu akan selalu ada selama
kita hidup, dan hal inilah yang membuat kita berusaha untuk melewati batas
kesanggupan itu dari waktu ke waktu. Contoh nyata bagi saya bahwa Allah SWT
tidak memberikan suatu ujian melampaui kesanggupan hambaNya adalah “kematian
atau meninggalnya seseorang”. Jika kita telah mencapai batas
kesanggupan terhadap suatu musibah maka Allah SWT akan mencabut nyawa kita.

0 komentar:
Post a Comment